Kamis, 04 November 2010

Menikmati Musim Gugur di Jepang


JEPANG, meski sudah kaya raya (income per kapita lebih dari 33.000 dolar AS), masih saja berharap meraup devisa dari sektor pariwisata. Setiap tahun jutaan wisatawan asing diharapkan mengunjungi Negeri Matahari Terbit ini. Bahkan pada tahun 2010 mendatang, seperti ditulis dalam buku Japan Now Edisi 2007, pemerintah Jepang menargetkan kunjungan 10 juta wisatawan mancanegara. Untuk itu, lembaga pemerintah yang mengelola sektor kepariwisataan di Negeri Sakura ini mencanangkan promosi melalui slogan visit Japan campaign.

"Kunjungan wisatawan asing ini bukan saja kami harapkan berdampak positif bagi perekonomian Jepang, tetapi juga kami maksudkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat internasional terhadap negara, rakyat, dan kebudayaan Jepang," ujar Minoru Nakamura, Presiden Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (Japan National Tourist Organisation-JNTO).

Para wisatawan bisa memilih daerah tujuan wisata baik alam, sejarah, tempat ibadah (kuil), pusat-pusat perbelanjaan, maupun wisata ilmu pengetahuan melalui museum. Termasuk museum milik perusahaan-perusahaan besar yang memajang berbagai produk awal hingga mutakhir. Ini semua dimaksudkan untuk menggambarkan perkembangan teknologi yang digunakannya sejak perusahaan berdiri hingga kini, dan bahkan berbagai produk konsep yang mungkin suatu saat kelak akan menjadi kenyataan.

Pemerintah Jepang tampak serius mengelola berbagai objek wisata berikut berbagai sarana menuju daerah atau lokasi tujuan wisata itu. Para wisatawan asing maupun domestik bisa dengan mudah memilih sarana transportasi seperti bus, kereta api, kereta api bawah tanah (subway), dan taksi. Mereka juga dapat memilih bermalam di hotel mewah, losmen, atau asrama mahasiswa yang bertarif murah. Para pengelola objek wisata di negara superkaya itu, umumnya mampu mewujudkan serta menjaga kebersihan yang membuat para tamu nyaman berkunjung. Boleh dibilang hampir tidak ada toilet di lokasi wisata yang dibiarkan kotor dan bau tak sedap. Umumnya tampak bersih. Para pengunjung tidak boleh sembarangan membuang sampah. Ini semua merupakan bukti bahwa Jepang merupakan negara yang mencintai kebersihan.

Menurut kalangan pemandu wisata, hanya diperlukan delapan hari untuk menjelajahi berbagai objek wisata di seluruh Jepang. Harap maklum, negara yang memiliki 6.800 pulau dengan lima pulau besar (Hokkaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Okinawa) itu, dari ujung paling utara (Soya Misaki di pulau Hokkaido) hingga ujung paling selatan (Haterumajima di pulau Okinawa) hanya berjarak 3.000 km. Sekalipun sering disebut sebagai negara kecil, Jepang dengan luas wilayah 377.800 km2 ternyata dua kali lebih besar dari Inggris.

Dengan berhemat, seorang wisatawan asing cukup mengeluarkan antara 5.000 - 10.000 yen (Rp 400.000,00 - Rp 800.000,00) per hari atau sekitar Rp 6,4 juta per delapan hari untuk biaya penginapan, makan, dan transportasi. Kalau saja target 10 juta wisatawan asing pada tahun 2010 tadi tercapai dan katakan saja setiap wisatawan membelanjakan Rp 6,4 juta (selama delapan hari di sana), kelak pemerintah Jepang akan meraup pendapatan sekitar Rp 64 triliun dari sektor pariwisata ini. Jumlah ini tentu saja belum termasuk pendapatan dari wisatawan dalam negeri, yang setiap akhir pekan, lebih-lebih pada musim gugur dan musim semi, dapat dipastikan selalu membanjiri berbagai objek wisata.

**

NEGARA berpenduduk sekitar 127 jiwa itu memiliki empat musim, yakni semi (Maret-Mei), panas (Juni-Agustus), gugur (September-November), dan dingin (Desember-Februari). Bagi wisatawan asing, musim gugur dan musim semi direkomendasikan sebagai saat-saat yang paling baik untuk melancong karena udaranya sejuk dan pemandangannya sangat indah dengan ditandai warna-warni daun pepohonan dan mekarnya berbagai jenis bunga.

Beruntung saya bersama 28 wartawan lainnya dari Indonesia dapat menyaksikan musim gugur selama lima hari di akhir Oktober lalu. Lawatan ini dalam rangkaian meliput pameran mobil internasional (Tokyo Motor Show 2007) atas undangan Daihatsu Motor Company. Suasana alam Jepang dapat saya saksikan dalam perjalanan menggunakan bus sejauh 60 km dari Bandara Narita ke Tokyo. Dari Tokyo ke Osaka naik kereta api supercepat Shinkansen, Osaka - Kyoto, dan beberapa lokasi wisata di pinggiran Kyoto.

Memang, suasana musim gugur 2007 di negara yang sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan itu, mungkin akan terus saya kenang. Meski hanya lima hari, momentumnya sungguh tepat karena hari-hari itu adalah pertengahan musim gugur. Pemandangan alamnya indah. Udaranya sejuk (rata-rata 15 derajat Celsius) atau cenderung dingin bagi mereka yang biasa tinggal di daerah berhawa panas. Apalagi pada hari-hari itu kadang-kadang turun hujan. Rombongan kami seringkali harus menyiapkan payung sebelum bepergian.

Kenangan rasanya semakin sulit dilupakan karena pada hari terakhir sebelum kembali ke tanah air, kami juga piknik ke daerah Pegunungan Arashiyama di sebelah barat Kota Kyoto, atau sekitar dua jam perjalanan menggunakan bus dari hotel tempat kami menginap di Kota Osaka. Selama dalam perjalanan, dari balik kaca bus itulah suasana musim gugur di wilayah perkotaan maupun perdesaan dapat kami nimakti. Apalagi setelah rombongan berpindah naik kereta api "romantis" atau trem Sagano dari sebuah stasiun untuk menuju Arashiyama, sekitar 20 menit perjalanan ke arah lereng-lereng pegunungan di wilayah Arashiyama ini.

Pada pagi itu, trem Sagano yang terdiri atas lima gerbong, penuh oleh rombongan pelancong baik asing maupun domestik. Banyak di antaranya adalah para pelajar yang selalu ceria dan riuh selama dalam perjalanan.

Keindahan alam Arashiyama yang mirip pemandangan alam Jawa Barat inilah yang memotivasi pemerintah Jepang membangun jaringan rel kereta api wisata ke wilayah itu pada tahun 1991 silam. Kereta api tersebut diberi nama Sagano Sight-Seeing Tram atau Sagano Scenic Railway. Nama Sagano diambil dari salah satu nama daerah di wilayah itu yakni Saga dan sejak itu pula dikenal Stasiun Saga (stasiun terakhir khusus di jalur wisata gunung ini).

Stasiun sebelumnya adalah Arashiyama, Hazukyo, dan Kameoka.

Lokasi jalur trem wisata tersebut sengaja didekatkan agar --paling tidak untuk beberapa lokasi-- berdampingan dengan Sungai Hozu yang mengalir di lembah-lembah pegunungan dan dijadikan lokasi wisata dengan perahu. Lokasi jalur rel yang menanjak itu melewati enam terowongan dan sekali melewati jembatan (Togetsukyo) di atas Sungai Hozu. Dengan menggunakan kereta api yang jendelanya sengaja dibuat terbuka dan lebar di setiap gerbongnya itu, para pelancong dapat menikmati pemandangan alam, apalagi ketika tiba di jembatan Togetsukyo. Jembatan ini merupakan simbol keindahan alam daerah Arashiyama dan banyak penyair telah mengabadikannya lewat puisi.

Berhenti di Stasiun Arashiyama, para pengunjung kemudian mendaki bukit dan dapat menyaksikan "hutan bambu" yang arealnya membentang hingga wilayah Saga. Pohon-pohon bambu berwarna hijau itu sengaja dibuat tumbuh teratur, bukan merupakan rumpun-rumpun yang berjubel antara pohon induk dan anaknya seperti pohon bambu di Indonesia yang pemandangannya sulit dinikmati.

Perjalanan ke Pegunungan Arashiyama yang pada zaman dulu merupakan daerah peristirahatan raja ini, dapat pula ditempuh dengan menggunakan sepeda sewaan. Atau dapat pula menggunakan perahu untuk menyusuri Sungai Hozu yang airnya jernih. Para pengendara sepeda atau para penumpang trem Sagano dapat berhenti di lokasi tertentu untuk kemudian mendaki perbukitan atau menuruni lembah menuju Sungai Hozu. Pada kesempatan itu saya berpikir, sebetulnya Pemda Jawa Barat bersama beberapa Pemda Tingkat II di Provinsi Jawa Barat dapat membangun kawasan wisata seperti ini. Saya pun ingat, beberapa tahun lalu ketika sejumlah wartawan asing sedang berkunjung ke Bandung via daerah Puncak, mereka tak sungkan untuk memuji keindahan alam Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar